Pages

Sabtu, 02 Juni 2012


FATKHUR RIFAN
 Analisis Novel “Ketika Cinta Bertasbih I” karya Habiburrahman El Shirazy


KATA PENGANTAR

            Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta hidayah-nya, sehingga penulis dapat  menyelesaikan  makalah ini dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya .
            Ucapan terimakasih tak lupa penulis  persembahkan kepada :
1.        Dra. Lilik Sriyatin, M.Pd. selaku pembimbing mata kuliah Sosiologi Sastra yang senantiasa memberikan saran serta dorongan untuk terselesaikannya makalah ini dengan baik.
2.        Orang tua kami yang telah membantu serta mendukung terselesaikannya makalah ini.
3.        Teman-teman mahasiswa yang turut serta menyelesaikan  makalah ini.
Penulis mohon maaf apabila terdapat ketidaksempurnaan dalam penyusunan makalah ini. Maka dari itu, penulis  mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi  kesempurnaan penyusunan makalah berikutnya.Semoga makalah ini dapat meningkatkan pengetahuan pembaca tentang Mata kuliah Sosiologi Sastra.

                                                                                    Pasuruan,  12 November 2011


                                                                                                Penulis



DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL
KATA PENGANTAR                      
DAFTAR ISI             
BAB I. PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah
1.2  Rumusan Masalah
1.3  Tujuan
BAB II. PEMBAHASAN                 
2.1 . Sinopsis
2.2 Analisis unsur Intrinsik
2.3 Analisis unsur Ekstrinsik
BAB III. PENUTUP             
3.1 Kritik dan saran                 
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang
     Karya sastra merupakan hasil pekerjaan kreatif pengarang yang memuat cerita-cerita tentang kehidupan. Ada tiga macam jenis prosa yang di dalamnya terdapat peristiwa kehidupan yang dialami para tokohnya. Menurut Sudjiman (1998; 53), novel merupakan proses rekaan yang panjang, menyuguhkan tokoh-tokoh dan menampilkan serangkaian peristiwa dan latar belakang secara teratur. Novel yang baik tidak hanya dituntut untuk mudah dipahami dan menarik bagi pembacanya, tetapi juga harus mengandung nilai-nilai moral dan kemanusiaan yang bermanfaat bagi pembacanya.
     Novel merupakan perwujudan ide pengarang yang diungkapkan dalam bentuk karya sastra dengan menggunakan media bahasa. Pengarang menciptakan karya sastra tidak terlepas dari tujuannya untuk menyampaikan gagasan, perasaan dan pengalaman hidupnya kepada pembaca dengan harapan pembaca dapat terhibur dan memperoleh manfaat dari karyanya.
     Novel Ketika Cinta Bertasbih adalah salah satu karya seorang novelis muda, Haabiburrahman El-Shirazy. Ia lahir pada tanggal 30 September 1976 di Semarang, Jawa Tengah. Pada tahun 1992 ia merantau ke kota Surakarta untuk belajar di Madrasah Aliyah Negeri Program Khusus (MAPK), lulus pada tahun 1995. Setelah itu, ia melanjutkan pendidiknya ke Universitas Al-Azhar di Kario, dan selesai pada tahun 1999. Pada tahu 2001, ia menyelesaikan Postgraduate Diploma (Pgd.) S2 di Kairo, Mesir.
     Kenapa Ketika Cinta Bertasbih diangkat sebagai makalah karena di dalamnya terkandung nilai-nilai kehidupan manusia, di antaranya nilai religi, budaya dan cinta. Novel tersebut menceritakan tentang kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan perilaku mahasiswa yang kuliah di luar negeri. Jalan cerita di dalamnya juga menarik, disertai dengan nilai-nilai keteladanan. Hal itu dapat member manfaat bagi para pembaca. Selain itu Habiburrahman El Shirazy menuliskan pengalaman hidupnya selama berada di Kairo. Cerita dalam novel tersebut dapat terasa lebih nyata karena permasalahan-permasalahan yang ada dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
     Novel Ketika Cinta Bertasbih ditulis di antara tahun 2005-2006 dan diterbitkan pada tahun 2007. Novel tersebut mengisahkan kehidupan Khairul Azzam, seorang mahasiswa Indonesia yang berjuang menggapai gelar Master di Universitas Al Azhar, Kairo. Tokoh Azzam digambarkan sebagai sosok yang menjalani hari-harinya dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Azzam selalu berusaha menjunjung tinggi ajaran islam dan berusaha menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Di Kairo, Azzam tinggal di sebuah apartement sederhana dengan lima mahasiswa Al Azhar yang berasal dari Indonesia pula. Hari-hari Azzam sendiri selain disibukkan oleh aktivitas kampus, ia juga disibukkan sebagai profesi tambahannya menjadi penjual bakso dan tempe di kalangan mahasiswa Indonesia ataupun orang-orang KBRI.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah analisis keterkaitan antara aspek Sosiologi sastra dengan aspek
religius?
2. Bagaimanakah nilai-nilai religius yang terkandung dalam novel Ketika Cinta
Bertasbih?
1.3 Tujuan Masalah
1. Mengetahui keterkaitan antara aspek Sosiologi sastra dengan aspek religius.
2. Mengetahui nilai-nilai religius yang terkandung dalam novel Ketika Cinta
Bertasbih.


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sinopsis
Khairul Azzam adalah pemuda cerdas yang terlahir di sebuah desa di Jawa Tengah dan merupakan anak tertua dari empat bersaudara. Dari kecil Azzam sudah memiliki prestasi di sekolahnya, ia selalu mendapatkan juara pertama di kelasnya. Di tingkat Aliyah prestasi Azzam pun semakin gemilang. Berkat ketekunan dan kesungguhannya belajar ia mendapat beasiswa kuliah di Al-Azhar-Kairo.
Baru setahun di Kairo prestasi Azzam sangat membanggakan ayahnya bahkan ia memdapat nilai yang Jayyid Jiddan (lulus dengan sempurna), namun ajal tidak memandang siapa pun, ia datang kepada siapa saja yang telah digariskan tuhan. Itu pula yang terjad dengan ayah Azzam, setelah menempuh perkuliahan selama setahun ia mendapat berita bahwa ayahnya telah menghadap Sang Pencipta untuk selamanya.
Itulah awal dari menurunnya prestasi Azzam di kampus. Sebagai anak tertua Azzam mau tidak mau harus bertanggung jawab atas kehidupan keluarganya, dikarenakan adiknya masih kecil-kecil. Sementara itu, dia sendiri harus menyelesaikan studinya di Negara orang. Akhirnya dia mulai membagi waktu untuk belajar dan mencari nafkah. Ia mulai membuat tempe dan bakso yang ia pasarkan di lingkungan KBRI di Kairo. Berkat keahlian dan keuletannya dalam memasak, Azzam menjadi populer dan dekat dengan kalangan staf KBRI di Cairo. Tapi hal itu berimbas pada kuliah Azzam, sudah 9 tahun berlalu, ia belum juga menyelesaikan kuliahnya.
Seringnya Azzam mendapatkan job di KBRI Kairo mempertemukan ia dengan Puteri Duta Besar, Eliana Pramesthi Alam. Eliana adalah lulusan EHESS Perancis yang melanjutkan S-2 nya di American University in Cairo. Selain cerdas, Eliana juga terkenal di kalangan mahasiswa karena kecantikannya. Ia bahkan pernah diminta main di salah satu film produksi Hollywood, juga untuk Film layar lebar dan Sinetron di Jakarta. Segudang prestasi dan juga kecantikan Eliana membuat Azzam menaruh hati pada Eliana. Tetapi Azzam urung menjalin hubungan lebih dekat dengan Eliana, karena selain sifat dan kehidupannya yang sedikit bertolak belakang dengan Azzam, juga karena nasihat dari Pak Ali, supir KBRI yang sangat dekat dengan keluarga Eliana.

Apa yang dikatakan Pak Ali cukup terngiang-ngiang di benaknya, bahwa ada seorang gadis yang lebih cocok untuk Azzam. Azzam disarankan untuk buru-buru mengkhitbah (melamar) seorang mahasiswa cantik yang tak kalah cerdasnya dengan Eliana. Dia bernama Anna Althafunnisa, S-1 dari Kuliyyatul Banaat di Alexandria dan sedang mengambil S-2 di Kuliyyatul Banaat Al Azhar – Cairo, yang juga menguasai bahasa Inggris, Arab dan Mandarin. menurut Pak Ali, kelebihan Anna dari Eliana adalah bahwa Anna memakai jilbab dan sholehah, bapaknya seorang Kiai Pesantren bernama Kiai Luthfi Hakim.
Ada keinginan Khaerul Azzam untuk menghkhitbah Anna walaupun ia belum pernah bertemu atau melihat Anna. Karena tidak punya biaya untuk pulang ke Indonesia, Pak Ali menyarankan supaya melamar lewat pamannya yang ada di Cairo, yaitu Ustadz Mujab, dimana Azzam sudah sangat mengenal ustadz itu. Dengan niat penuh dia pun datang ke ustadz Mujab untuk mengkhitbah Anna Althafunnisa. Tapi ternyata lamaran itu ditolak atas dasar status. Karena S-1 Azzam yang tidak juga selesai, dan lebih dikenal karena jualan tempe dan bakso. Selain itu, Anna telah dikhitbah lebih dulu oleh seorang pria yang alih-alih adalah Furqan, sahabat Azzam yang juga mahasiswa dari keluarga kaya yang juga cerdas di mana dalam waktu dekat akan menyelesaikan S-2 nya. Azzam bisa menerima alasan itu, meskipun hatinya cukup perih.
Tetapi kemudian Furqan mendapat musibah yang sangat menghancurkan harapan-harapan hidupnya. Hal tersebut membuatnya menghadapi dilemma antara ia harus tetap menikahi Anna yang telah dikhitbahnya, tetapi itu juga sekaligus akan dapat menghancurkan hidup Anna.
Sementara itu Ayyatul Husna, adik Azzam yang sering mengirim berita dari kampung, membawa kabar yang cukup meringankan hati Azzam. Agar Azzam tidak perlu lagi mengirim uang ke kampung dan lebih berkonsentrasi menyelesaikan kuliahnya. Karena selain Husna telah lulus kuliah di UNS, ia juga sudah bekerja sebagai Psikolog. Keahlian Husna dalam menulis sudah membuahkan hasil. Penghasilan Husna cukup dapat membiayai kebutuhan adiknya yang mengambil program D-3, serta adik bontotnya yang bernama Sarah yang masih mondok di Pesantren.
Azzam yang sudah sangat rindu dengan keluarganya memutuskan untuk serius dalam belajar, hingga akhirnya berhasil lulus. Azzam pun menepati janjinya ke keluarganya untuk kemMesir ke kampung dan segera mencari jodoh di sana, memenuhi amanat ibunya. Walaupun sebenarnya masih terbersit sedikit harapan untuk tetap mendapatkan hati Anna.
Apakah mungkin Azzam akan berjodoh dengan Anna? Ataukah Eliana yang sebenarnya juga masih penasaran dengan Azzam? Ataukah Azzam berhasil menemukan tambatan hatinya di Indonesia?..

2.2. Analisis Unsur Intrinsik
A.Tema.
Tema dalam novel ini adalah cinta islami.
B.Latar
Latar dapat dibedakan ke dalam unsur tempat, waktu, dan sosial. Berikut akan dijelaskan dari ketiga unsure tersebut:
a. Latar Tempat.
Yang menjadi latar tempat dalam novel ini adalah di daerah kota Alexandria. Seperti Hotel Al Haram, tempat Azzam menginap sewaktu Kedutaan besar republik Indonesia mengadakan acara “pekan promosi wisata dan budaya Indonesia di Alexandria”. Acara makan malam di sebuah taman pantai El Muntazah, lobby hotel. Pantai Cleopatra dimana tempat Azzam dan Pak Ali berbincang-bincang menikmati udara pagi setelah shalat subuh. Toko buku di El Manshiya, dimana Azzam bertemu Furqan untuk kedua kalinya. Flat Azzam dan teman-temannya dari Indonesia di Hay El Asher. Masjid Ridhwan biasanya tempat Azzam menunaikan shalat subuh. Universitas Al Azhar. Meridien hotel, tempat Furqan menenangkan dirinya untuk fokus tesis. Pasar Sayyeda Zainab, dimana tempat biasa Azzam berbelanja peralatan bakso dan tempe. Flat Anna dan teman-temannya dari Indonesia di Abdur Rasul. Kantor mabahits tempat pertahanan dan keamanan, penjara dan rumah sakit.
Seperti berikut gambaran di dalam ceritanya: “ia mengalihkan pandangannya jauh ketengah laut mediterania. Nan jauh di sana ia melihat tiga kapal yang tampak kecil dan hitam. Kapal-kapal itu ada yang sedang menuju Alexandria, ada juga yang sedang meninggalkan Alexandria…”. Selain itu juga diceritakan pula sebuah taman di Indonesia yaitu Taman Mini Indonesia indah, makam Bonoloyo di Solo, rumah Anna di pesantren Daarul Quran, serta rumah Azzam dan keluarga di Indonesia.



b. Latar Waktu
Latar waktu dalam cerita ini tidak dijelaskan secara langsung oleh pengarang, namun dapat ditarik kesimpulan cerita ini berlangsung ketika Azzam mulai menuntut ilmu pada jenjang perguruan tinggi di Universitas Al Azhar, Cairo. Sampai akhirnya ia harus bekerja keras untuk mempertahankan kuliahnya sampai selesai beserta keluarganya yang ada di Indonesia. Seperti petikan berikut: “Dan akan ia buka kembali saat nanti sudah pulang ke Indonesia. Setelah ia sudah selesai S1 dan adik-adiknya sudah bisa ia percaya mampu meraih masa depannya”. (hal.121)
“Padahal ia sudah sembilan tahun di Mesir. Ia sama sekali tidak memperdulikan hal itu. Baginya, yang penting ia telah melakukan hal yang benar. Benar untuk dirinya, ibunya, adik-adiknya dan agamanya. (hal.212)

c. Latar Sosial
Cerita ini mengangkat sosial masyarakat Mesir yang kental sekali dengan islam dan para mahasiswa Indonesia. Dalam novel ini dijelaskan dengan detail aktifitas para mahasiswa dalam menuntut ilmu di Al Azhar, dan kegiatan yang sering dibuat oleh KBRI. Kemudian diceritakan juga masyarakatnya yang heterogen, sikap toleransi, dan saling tolong menolong. Hidup dengan kebersamaan, kesederhanaan dan kedamaian. Serta kota indah yang menjadi pelabuhan utama di Alexandria. Seperti gambaran
“Malam mulai membentangkan jubah hitamnya. Lampu-lampu jalan berpendaran. Alexandria memperlihatkan sihirnya yang lain. Sihir malamnya yang tak kalah indahnya. Kelap-kelip lampu kota yang mendapat julukan “sang pengantin laut mediterania” itu bagai tebaran intan berlian…”. Namun terdapat hal-hal yang tidak baik dari masyarakat mesir yang digambarkan dalam novel ini seperti kurang ramahnya orang mesir dalam melayani orang Indonesia dalam berbelanja. Ketika Azzam membeli kibdah. Kalau bicara sangat tinggi, terlalu melihat dari segi materi, pelayanan aparat polisi kurang baik, serta pemerasan yang kerap terjadi.





C. Penokohan/perwatakan.
Tokoh utama dalam novel ini adalah Abd. Khairul Azzam. Dan tokoh tambahannya adalah diantaranya Elliana, Anna dan Furqan.
1. Abdullah Khairul Azzam
Seorang mahasiswa yang sederhana, kreatif, mampu menyelesaikan masalah, berani mengambil resiko, pantang menyerah dan berjiwa usaha yang tinggi. setiap ada peluang sedikit untuk melakukan manuver bisnis pasti dimanfaatkan secara baik tidak peduli resikonya tinggi, asal ada kemauan pasti ada jalan.
Selain itu Azzam merupakan kakak yang sangat peduli terhadap ibu dan adik - adiknya, walaupun mengorbankan kuliahnya untuk bekerja, Azzam bangga karena pada akhirnya dapat mengantarkan adik - adiknya menggapai cita - cita. Husna adiknya yang pertama berhasil menjadi psikolog dan penulis terbaik nasional. Lia adik keduanya lulus P GSD, dan menjadi guru favorit di SDIT Al Kautsar Solo. Dan adik bungsunya Sarah, hampir khatam Al Quran di Pesantren Al Quran di Kudus. Sosok seorang Azzam sebagai kakak mencerminkan betapa besarnya kasih sayang dan pengorbanan kepada adik -adiknya patut dijadikan contoh.
a. Kreatif
“Biarlah masyarakat Indonesia di Cairo tahunya saya adalah mahasiswa Al-Azhar yang tidak lulus-lulus karena lebih senang bisnis tempe, bakso, dan katering.” (hal.65)
b. Rajin
“Mungkin saat itu mas khairul sedang capek. Letih. Orang kalau letih itu bisa tidak jernih pikirannya. Cobalah ingat, kemarin ia kerja sejak pagi sampai malam.” (hal.105)
c. Tanggung jawab
“Allah belum mengizinkan aku menikah. Aku masih harus memperhatikan adik-adikku sampai ke gerbang masa depan yang jelas dan cerah”. (hal.121)
“ia langsung teringat akan tanggung jawabnya sebagai kakak tertua. Ia menangis. Ia merasakan betapa sayangnya Allah kepadanya. Allah masih ingin ia focus pada tanggung jawabnya membiayai adik-adiknya.” (hal.121) “aku sama sekali tak menyangka bahwa kau menghidupi adik-adikmu di Indonesia…” (hal.65)
d. Mandiri
“Saat itu ia sendiri sedang sangat memdrlukan datangnya sumber rejeki untuk mempertahankan hidupnya, dan juga adik-adiknya. Jadilah ia terjun total dalam bisnis membuat bakso.” (hal.224)
e. Penolong
“Baiklah, sekarang masalah Bantu membantu. Bukan bisnis. Saya ingin murni membantu, jadi saya tidak akan mengharapkan apapun dari mbak.” (hal.50)
“O, ya sudah. Semoga bisa dilacak.”sahut Azzam sambil menutup pintu taksi. Taksi perlahan bergerak. Pikiran Azzam juga bergerak bagaimana mendapatkan kembali kitab itu.”(hal.197)
f. Soleh
“Ia membenarkan tindakannya itu dengan berpikir bahwa datangnya azan yang memanggilnya itu lebih dulu dari datangnya dering telpon itu. Dan dia harus mendahulukan yang datang lebih dulu.” (hal.45)
g. Cerdas
“Ia adalah prototype anak Indonesia yang pintar, cerdas, dan bersahaja, namun lahir dari kalangan keluarga pas-pasan; jadi, sangat khas Indonesia! Kecerdasan azzam kian terbukti tatkala ditahun pertama menimba ilmu di Al-Azhar ia memperoleh predikat jayyid jiddan(istimewa), dan oleh karenanya ia mendapat beasiswa dari majlis A’la.” (hal.)
2. Eliana Pramesthi Alam
Seorang putri tunggal dari duta besar negara Indonesia yang berada di Mesir, keberadaannya disana untuk menemani kedua orangtuanya serta melanjutkan S2 nya di American University in Cairo (AUC). Berwatak keras, sombong, ketus, dan egois. Gadis yang bersuara merdu, fostur tubuh yang indah dan cantik ini juga dianugrahi sosok yang cerdas, pintar, suka debat dan sangat gemar menulis opini dalam bahasa inggris sehingga banyak meraih berbagai macam prestasi. Eliana yang lama tinggal di Paris membuat kehidupannya jauh berbeda dengan wanita-wanita Indonesia yang mengambil studi di Cairo. Kesabaran dan kesalihan Azzam mampu meredup keangkuhan Eliana dengan menjelaskan kembali beberapa nilai agama yang selama ini dianggap remeh dan dilalaikan oleh Eliana.
a. Cantik
“Wajahnya yang putih dengan mata yang bulat jernih memancarkan pesona yang mampu menghangatkan aliran darah setiap pemuda yang menatapnya.” (hal.46)
b. Pintar
“Tulisannya rapi, runtut, berkarakter, tajam dan kuat datanya. Orang dengan pengetahuan memadai, akan menilai tulisannya merupakan perpaduan pandangan seorang jurnalis, sastrawan dan diplomat ulung.” (hal.36)
c. Emosi
“ia memang orang yang mudah emosi jika ada sedikit saja hal yang tidak sesuai dengan suasana hatinya.” (hal.95)
d. Peremeh
“Ah shalat itu gampang! Yang penting ini. Ada tugas penting untuk mas khairul malam ini. Tugas terakhir. Aku janji!” sahut Eliana nerocos tanpa rasa dosa karena menggampangkan shalat.” (hal.46)
3. Anna Althafunnisa
Mahasiswi Indonesia yang menempuh kuliah S2 di Cairo. Dari keluarga kiyai terhormat di Klaten. Anna memiliki watak sederhana dan sedikit tertutup. Prestasi yang diraih Anna tidak sedikit dari kecil, sampai kuliah di Kuliyyatul Banat al-Azhar ia pun sering menulis dimajalah salah satunya Al Wa’yu Al Islami, banyak artikel yang dia muat di sana. Anna yang telah menikah dengan Furqan dan belum pernah dinafkahi batinnya sama sekali membuat furqan harus jujur bahwa ia divonis penyakit AIDS meskipun sesungguhnya itu negatif. Akhirnya Anna bercerai dari Furqan dan menikah dengan Azzam yang telah lama mengidamkan sosoknya.
a. Pintar
“Anna adalah bintangnya pesantren Daarul Quran. Sejak kecil ia menghiasi dirinya dengan prestasi dan prestasi selain dengan akhlak mulia tentunya. Ia menyelesaikan S1-nya di Alexandria dengan predikat mumtaz.” (hal.120)
b. Solehah
“Kalau kamu mendapatkan Ana, kamu telah mendapatkan surga sebelum surga.” (hal.91)
c. Sederhana
“Dan Ana lebih memilih menutup diri dari kegiatan-kegiatan yang bersifat glamour.” (hal.91)
d. Santun
“Anna menunggu Bu Nafis sampai beranda. Begitu bu Nafis mendekat Anna langsung meraih tangan perempuan setengah baya itu dan menciumnya penuh rasa ta’zim.” (hal.89)
e. Cantik
“Kedua matanya yang sedikit merah mengguratkan kelelahan. Namun sama sekali tidak mengurangi pesona kecantikannya.” (hal.252)
4. Furqan
Seorang mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan Magister di al-al-Azhar Cairo. Ia berasal dari keluarga kaya. Salah satu anak konglomerat di Jakarta, sehingga kuliahnya berjalan lurus dan cepat diselesaikan tanpa hambatan. Tokoh Furqan ditampilkan istimewa karena selain materi yang dia punya, penampilan ia juga menarik. Wataknya yang tidak sombong dan baik hati membuat dia bisa berteman dengan siapa saja. Kelalaian pun membuat Furqan terjebak dalam sebuah masalah yang mana akhirnya dia harus bercerai dari Anna, dan akhirnya menjalin hubungan dengan Eliana yang telah berubah menjadi muslimah.
a. Ramah
“Setelah berpelukan, Furqan mengajak Azzam menemani makan roti kibdah disamping sebuah masjid tua sambil berbincang-bincang.” (hal.106)
b. Glamour
“Furqan langsung merasakan kesejukan dan kemewahan kamarnya. Kemewahan Eropa kontemporer hasil perkawinan arsitektur Italia dan turki modern.” (hal.155)
c. Intelek
“Furqan lebih dikenal sebagai intelek muda yang sering diminta menjadi nara sumber di pelbagai kelompok kajian…..” (hal.61)
d. Ceroboh
“Ini teguran dari Allah atas cara hidupmu yang menurutku sudah tidak wajar sebagai seorang penuntut ilmu.” (hal.289)
D.                 Alur
Alur
Dalam mengolah alur, setiap pengarang dapat mempergunakan bermacam-macam cara. Cara yang digunakan dalam cerita ini adalah alur progresif, yaitu jalan cerita atau peristiwa yang diceritakan bersifat kronologis, atau secara runtut cerita dimulai dari tahap awal (penyituasian, pengenalan, pemuuk membuat jamuan makanan khas Indonesia pun sangat mengagumi sosok Azzam.

Dilanjutkan dengan tahap tengah Azzam yang mengidamkan seorang wanita solehah bernama Anna pun harus direlakan untuk sahabatnya. Furqan yang telah mengenal Anna terlebih dahulu ternyata menaruh perhatian juga terhadapat Eliana. Karena sebab inilah yang membuat Furqan menjadi bingung, akan tetapi Furqan telah melamar Anna melalui pamannya ust.Mujab. Azzam dengan kekurangannya pun tak berdaya menghadapi percintaan ini. Hanya dengan kebesaran dan doa kepada Allahlah ia serahkan.
Klimaks dari cerita ini, dengan pertimbangan xang lama akhirnya Anna menerima lamaran Furqan. Furqan yang terjebak dalam musibah pemerasan, dan divonis terkena AIDS harus merahasiakan semua ini pada Anna. Pernikahan Anna dan Furqan tidak pernah bahagia. Perceraian pun harus dialami oleh Anna dan Furqan.

Tahap akhir dikisahkan melalui Husna, adik Azzam di Indonesia. Terjadilah pertemuan antara Azzam dan Anna. Anna yang pernah sekilas mengenal Azzam di Cairo, sesungguhnya menaruh perhatian khusus. hanya saja pertemuan itu sangatlah singkat. Diakhiri dengan Anna yang telah bercerai dari Furqan dan belum pernah mendapat nafkah batin dari mantan suaminya pun mendapat restu dari kedua orang tuanya untuk menikah dengan Azzam. Furqan dipertemukan kembali dengan Eliana yang telah berubah menjadi muslimah, dan semua vonis tentang penyakit AIDS itu ternyata tidak benar.
nculan konflik), tengah (konflik meningkat, klimaks), dan akhir (penyelesaian).

F.Gaya Bahasa
Pengarang menggunakan bahasa yang sederhana. Namun banyak ditemui beberapa gaya bahasa dalam cerita ini. Diantaranya gaya bahasa simile seperti ungkapan “gadis itu adalah kilau matahari di musim semi”. Metafora seperti ungkapan “ia menjadi buah bibir dikalangan mahasiswa dan masyarakat Mesir”.
Banyak pula terdapat ungkapan bahasa asing seperti bahasa arab “anta ya Azzam kaif hal? ”ana bi khair. Alhamdulillah. Andak ful shoya? “thob’an ‘andi. “aisy kam kilo?”khomsah wa’isyrin kilo kal ‘adah.” Bahasa inggris “good afternoon sir, can I help u”. Bahasa jawa “sir, ojo lali yo. Ojo kok ke neng kene. Ora tak ijini! Wis aku tak turu ndisik!”.
Pengarang banyak mengutip ayat al quran, hadits, doa nabi, dan pepatah dari seorang penyair. Al quran “tidakkah engkau memperhatikan bahwa sesungguhnya kapal itu berlayar di laut dengan nikmat Allah, agar diperhatikan-Nya kepadamu sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kebesaran-Nya bagi setiap orang yang sangat sabar lagi banyak bersyukur”. Hadits “Sesungguhnya Allah itu indah dan mencintai keindahan”. Doa nabi Yunus “la ila ha illa anta, subhanaka inni kuntu minadzalimin”. Pepatah dari seorang penyair seperti james Allen. Ungkapan dan untaian kata dari seorang tokoh dan dari kitab-kitab ilmiah seperti kaya ibnu Athaillah As Sakandari. Selain itu terdapat bahasa yang diungkapkan melalui surat seperti surat Tiara untuk Fadhil, dan surat Husna untuk kakaknya Azzam dan ungkapan lewat sms.


2.3. Unsur Ekstrinsik

1. Biografi Pengarang

            Habiburrahman el-Shirazy (lahir di Semarang 30 September 1976) adalah sarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dikenal sebagai dai, novelis, penyair, dan suami dari Muyasaratun Sa’idah. Memulai pendidikannya di MTs Futuhiyyah 1 Mranggen sambil belajar kitab kuning di Pondok Pesantren Al Anwar, Mranggen, Demak. Tahun 1992 ia merantau ke Surakarta untuk belajar di Madrasah Aliyah Program Khusus Surakarta, lulus pada tahun 1995. Setelah itu melanjutkan Fakultas Ushuluddin, Jurusan Hadist Universitas Al-Azhar, Kairo dan selesai Tahun 1999. Tahun 2001 lulus Postgraduate Diploma S2 di The Institute for Islamic Studies, Kairo.

                Selama di Kairo, ia telah menghasilkan beberapa naskah drama dan menyutradarainya, di antaranya: Wa Islama (1999), Darah Syuhada (2000). Tulisannya berjudul, Membaca Insanniyah al Islam dimuat dalam buku Wacana Islam Universal (1998). Beberapa karya terjemahan yang telah ia hasilkan seperti Ar-Rasul (2001), Biografi Umar bin Abdul Aziz (2002), Menyucikan Jiwa (2005), Rihlah ilallah (2004), dll. Cerpen-cerpennya dimuat dalam antologi Ketika Duka Tersenyum (2001), Merah di Jenin (2002), Ketika Cinta Menemukanmu (2004), dll.

               Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga negara-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Brunei. Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca. Diantara karya-karyanya yang telah beredar dipasaran adalah Ayat-Ayat Cinta (2004), Di Atas Sajadah Cinta (2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika Cinta Bertasbih 1 (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2 (2007) dan Dalam Mihrab Cinta (2007). Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah, Bidadari Bermata Bening, dan Bulan Madu di Yerussalem. (disadur dari Wikipedia.com)

2. Latar Belakang Sejarah dan Sosial

              Habiburrahman el-Shirazy, menulis cerita berdasarkan pengalaman hidupnya yang pernah bersekolah di Universitas Al Azhar, Mesir. Selain sebagai media dakwahnya, novel ini juga mencakup banyak cerita yang menggambarkan hidup seorang lelaki Indonesia. Sebagai contoh, novelnya yang lain yaitu Ayat-ayat Cinta. Dan dari segi ekonominya, pengarang tergolong menengah ke atas dilihat dari latar petualangan pendidikannya, mulai dari pendidikan menengah di MTs Futuhiyyah 1 hingga S2 di The Institute for Islamic Studies Kairo.


BAB III

PENUTUP


3.1  KRITIK DAN SARAN

            Menurut saya, novel ini sudah bisa dikatakan sempurna. Ceritanya mengalir dan mengikuti alur, di selingi kata-kata yang terangkai indah serta unsur-unsur islami yang tersutrat. Dan pembangunan tokoh yang baik, di tunjukkan si pengarang, dengan deskripsi watak yang kokoh, seperti tokoh Abdullah Khairul Azzam yang berpendirian teguh dan pekerja keras di bangun lewat cerita kesehariannya sebagai pembuat bakso & tempe, serta perannya sebagai kakak tertua. Satu hal lagi yang saya salutkan, adalah kata-katanya yang santun dan tidak menggurui. Menjadikan novel ini sangat layak di baca semua kalangan.





















0 komentar:

Posting Komentar